Manusia: Tuhan Tidak Pernah Logis

Banyak kisah di Alkitab yang menggambarkan ketidaklogisan Tuhan menurut pandangan manusia. Padahal, bisa saja kita yang gagal paham. Salah satunya ketika Allah memilih Daud – si penggembala domba yang sempat tidak diperhitungkan oleh Isai – ayahnya sendiri – untuk menjadi pemimpin.

Lalu Samuel berkata kepada Isai: “Inikah anakmu semuanya?” Jawabnya: “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai: “Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari” (1 Samuel 16:11 TB)

Bukankah kita terlalu sering melihat perawakan, kepandaian, pengalaman, bahkan kekayaan seseorang sebagai tolok ukur dalam memberikan posisi/jabatan/pemimpin. Terlalu sering juga kita tidak memperhatikan mereka yang sebenarnya memiliki jiwa kepemimpinan namun berpenampilan biasa-biasa saja. Mata manusia kita sudah terlalu lama melihat casing bungkusan dari luarnya. Pantaslah, ungkapan ini “Don’t judge a book by its cover” ada.

Apapun yang dianggap manusia tidak logis, Tuhan selalu punya cara untuk melogiskannya.

Berbeda dengan Allah yang selalu berurusan dengan hati. Allah menjadikan karakter gembala sebagai tolok ukurnya. Mengapa demikian? Di sinilah logisnya, seorang gembala tahu betul dan berusaha memperhatikan keberadaan dombanya. Seorang gembala tahu betul mana dombanya yang terluka, mana yang terlihat menyepi, dan yang terhilang. Karakter-karakter seorang gembala ini yang dilihat oleh Allah ada pada diri Daud, dan tentu sangat pantas jika Daud dipilih untuk diurapi sebagai Raja. Berbeda dengan cara pandang Isai ayah Daud, bukan?

5 Ketul Roti dan 2 Ekor Ikan: Matematika yang tidak Logis

Kita juga pernah dengar kisah tentang 5 roti dan 2 ikan, bukan? Kisah matematis ini terlihat sangatlah tidak logis. Manalah mungkin makanan sejumlah itu dapat mencukupkan kebutuhan makan 5000 lelaki, bahkan sisa 12 bakul. Padahal sebagai Tuhan yang mencukupkan, Allah yang adalah KASIH (1 Yoh 4:8), tentulah pantas (logis) DIA melakukan perkara ajaib untuk memenuhi kebutuhan umatNYA.

Adalah pantas bahwa apapun yang kita serahkan kepada Tuhan dapat dilipatgandakan sedemikian. Kisah 5 ketul roti dan 2 ekor ikan ini menunjukkan penyerahan diri – penyerahan kepemilikan – keterbukaan – pengakuan akan kedaulatan Tuhan.

Yang membuat kita tidak mengalami perlipatgandaan adalah ketika kita tidak menyerahkan apa yang kita miliki. Bahkan, mungkin kita terlalu sibuk melihat orang lain, meminta orang lain untuk menyerahkan miliknya, sementara kita terus menggenggam bahkan menyembunyikan milik kita. Yah, kalau disembunyikan, siapa yang bisa lirik.

Tuhan hanya mau bekerja sama dengan mereka yang terbuka, terang-terangan, tidak menggenggam.

Untuk kisah lainnya, subscribe untuk postingan berikutnya ya.

Berlangganan

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2 other subscribers