Tuaian Memang Banyak, Tuhan Mencari PekerjaNya

Tuaian memang banyak, namun pekerjaNya yang sedikit. Ayat ini membawa kita untuk masuk menjadi pekerja Tuhan yang sejati. IA sedang mencari para pekerjaNya untuk menyelesaikan penglihatan amanat Agung ini. Itu adalah Anda.

Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Matius 9:37-38

Apa artinya tuaian?

Di dalam ayat ini, yang dimaksud dengan tuaian adalah jiwa-jiwa. Seperti aktifitas memanen buah, menuai adalah suatu proses memilih buah yang sudah masak. Apakah yang akan terjadi jika buah yang sudah masak tersebut tidak dipanen? Akan menjadi busuk, bukan? Itulah mengapa Tuhan mengundang kita untuk menjadi pekerjaNya menyelesaikan tuaian di ladang Tuhan ini agar tidak menjadi busuk melainkan memperoleh keselamatan.

Di dalam 1 Korintus 3:5-9 bahwa Allahlah yang memberikan pertumbuhan dan Ia juga yang akan memberikan upah kepada masing-masing dari kita sesuai dengan pekerjaan yang kita lakukan.

(6) Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. (7) Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. (8) Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.

Apakah Tuhan ingkar dengan janjinya bahwa Ia yang memberikan pertumbuhan? Ada baiknya kita mulai untuk melakukan bagian kita dengan mengikuti prinsip tuaian yang membawa pertumbuhan spiritual kita.

Prinsip Tuaian

Setidaknya terdapat 7 Prinsip tuaian yang disampaikan oleh Ray Pritchard:

Pertama, Kembalikanlah seluruh manfaat spritual yang kamu terima kepada pengajar kamu. Prinsip ini menegaskan bahwa ketika kita mendapatkan pengajaran spiritual yang bermanfaat, kita harus mengembalikannya, baik dalam wujud penghargaan, hormat, kekayaan, dan semua yang baik bahkan tunduk terhadap instruksi yang diberikan oleh si pengajar.

Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu. (Galatia 6:6)

Kedua, Kamu hanya akan menuai apa yang kamu tabur. Prinsip ini sangat jelas disampaikan di dalam Galatia 6:7 tentang tabur tuai. Di dalam artikelnya Ray menyampaikan dengan gamblang bahwa ketika kita menanam buah apel, tentu yang kita tuai adalah buah apel.

Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. (Galatia 6:7)

Ketiga, Kamu akan menuai lebih dari apa yang kamu tabur. Tentu kita mengalami bahwa selama ini apa yang kita tuai jauh melebihi apa yang telah kita tabur. Ia memberikan anugrah dan perkenananNya atas kita hingga kita penuh dengan suka cita dan hidup berkemenangan. Bukankah ini melampaui dari apa yang kita tabur?

Keempat, Menuai membutuhkan kesabaran dan keuletan. Di dalam Galatia 6: 9 disebutkan: Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Ayat ini memerintahkan kita untuk tidak menjadi lemah, melainkn tetap bersemangat untuk menabur. Mungkin suatu saat nanti, kita akan melihat ada teman, saudara, atau kenalan yang diselamatkan karena kita sering menaburkan firman Tuhan kepadaNya.

Kelima, Kita harus merebut kesempatan. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa kesempatan tidak datang dua kali. Di dalam bahasa Yunani, oppurtunity (kesempatan) berasal dari kata kairos (waktu, waktu Tuhan). Karenanya, kita harus tangkap bahkan merebut kesempatan (waktu Tuhan) yang ada di dalam genggaman tangan kita. Janganlah menjadi lengah.

Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman. (Galatia 6:10)

Keenam, Kita harus menyampaikan kabar baik ke seluruh dunia. Roma 1 : 15 menyebutkan bahwa Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma. Di sini kita memiliki tugas untuk menyebarkan kasih Tuhan kepada siapapun di setiap kesempatan yang ada, apalagi jika orang tersebut sudah siap untuk menerima pengajaran tentang Firman Tuhan. Teruslah sampaikan kabar baik kepada mereka hingga seluruh dunia mengalami kesalamatan yang telah Allah anugrahkan kepada dunia ini.

Ketujuh, Mulai dari yang paling dekat dengan kamu. Pernah mendengar ungkapan “Jangan kutuki gelapnya dunia, tetapi nyalakanlah terangmu. Tuhan Yesus secara gamblang di dalam Matius 5:16 menyampaikan “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik  dan memuliakan Bapamu yang di sorga. Ketika orang-orang terdekat, orang-orang di sekitar kita melihat perbuatan baik kita, Tuhanlah yang akan dimuliakan. Jika kita seorang anggota keluarga, baiklah kita memancarkan kasih dan kebaikan kita kepada saudara/keluarga kita. Jika kita seorang pelajar, pancarkanlah terang kejujuran, kasih sesama, semangat membantu dan semua hal lainnya yang baik kepada teman kelas kita, adik dan kakak kelas kita, guru dan seluruh masyarakat sekolah kita. Jika kita seorang pekerja, lakukanlah hal yang baik juga kepada mereka. Mulailah dari yang paling dekat dengan kamu.

 

Sobat tuaian, mari kita selaraskan hidup kita dengan Firman untuk dapat masuk ke dalam ladangNya karena memang Dialah pemilik tuaian dan yang akan memberikan pertumbuhan. Tuhan Yesus Memberkati.

Baca Juga: Mencapai Kualitas Tuaian Seratus Kali Lipat